2.1. Kondisi Desa

2.1.1.  Sejarah Desa

  1. Legenda Desa

Menurut sejarah dan legenda yang disampaikan sesepuh dan tetua yang ada di Desa Wates, bahwa letak Desa Wates pada jaman dulu hingga sekarang secara umum memang tidak ada perpindahan atau pergeseran letak desa. yaitu terletak di tengah  cekungan pegunungan terendah dan paling utara dari pegunngan sabuk emas pulau Jawa ( seperti mangkok / piring yang ditaruh di atas meja )  walau berada di pegunungan tapi setara dengan desa yang terletak di dataran rendah (seperti desa Trisari dan Ngroto Kecamatan Gubug). Jadi walau berada di pegunungan, akan tetapi berada di cekungan sehingga tidak mengherankan jika desa Wates setiap tahun menjadi langganan bencana alam banjir. akan tetapi semua itu wilayah desa Wates ada sedikit perubahan yang sangat disayangkan, yaitu berkurangnya luas wilayah kurang lebih seluas 4 hektar atau sebanyak satu persil yang sekarang masuk menjadi wilayah administratif desa Trisari Gubug. adapun sejarah legenda dan fakta tersebut adalah sebagai berikut:

“ Pada suatu hari (tidak diketahui tanggal bulan dan tahun), pada tanah persil tersebut ada bangkai manusia yang hanyut melalui sungai Tuntang yang akhirnya kandas dan terhenti di daratan tanah persil tersebut yang secara adinistratisf dahulu menjadi wilayah desa Wates. Karna guna menyelesaikan masalah bangkai manusia tersebut, warga desa Wates tidak mau atau tidak berani megurus dan menyelesaikannya.karena wilayah tersebut dekat wilayah desa Trisari, maka warga / pemerintah desa Wates menawarkan  kepada warga desa Trisari untuk mengurus dan menyelesaikan masalah bangkai manusia tersebut. Warga Trisari tidak mau karena kejadian peristiwa bukan berada di desa Trisari. KarEna warga desa Wates tidak ada yang mau (berani) sehingga  warga desa Trisari terpaksa mau mengurus dan menyelesaikan masalah bangkai manusia tersebut dengan syarat tanah satu persil yang telah menjadi sebagai lokasi penemuan bangkai manusia tersebut menjadi milik warga desa Trisari dan akhirnya hal tersebut disepakati bersama antara warga desa Wates dan Warga desa Trisari. dengan demikian secara defakto maupun yuridis wilayah desa Wates telah terjadi pengurangan luas wilayah.”

Dilihat dari letak letak geografis desa Wates terletak diantara segitiga batas antar kecamatan di Kabupaten Grobogan dengan batas-batas desa sebagai berikut:

  1. Sebelah utara berbatasan dengan desa Trisari (Gubug) dan Desa Ngamabakrejo (Tanggungharjo).
  2. Sebelah barat berbatasan dengan desa Ngambakrejo dan Desa Mrisi (Tanggungharjo).
  3. Sebelah selatan berbatasan dengaan desa Jumo (Kedungjati).
  4. Sebelah timur berbatasan dengan sungai Tuntang ( Desa Glapan dan Penadaran) Kecamatan Gubug.

Adapun secara astronomis desa Wates terletak diantara 7 derajat 06’53.3 S 110 derajat  40’39.3’ E garis Bujur barat dan -7 derajat-115373, 110.667 595 garis bujur timur.

Secara topografi kondisi kemiringan desa Wates kurang lebih 15 – 20 derajat sehingga kondisi kemiringan desa Wates adalah landai.

Jarak orbitasi desa Wates adalah sebagai berikut:

  1. Jarak ke Ibukota Kecamatan Kedungjati sejauh 9 km.
  2. Jarak ke Ibukota Kabupaten Grobogan sejauh 45 km.
  3. Jarak ke Ibukota Propinsi Jawa Tengan Semarang sejauh 41 km.
  4. Jarak ke Ibukota Negara Republik Indonsia Jakarta sejauh 483 km.

Jalan-jalan di desa yang akan menuju ke Kecamatan dan Kabupaten semuanya alhamdulillah rata-rata sudah bagus yaitu  berupa rabat beton blok, dan yang masih rusak parah adalah jalan keluar desa yang menuju ke Ngambakrejo Kecamatan Tanggungharjo yaiu berupa jalan rabat beton setapak kanan – kiri yang sudah rusak parah, sehingga sangat berbahaya bagi para pengendara.